Tampilkan postingan dengan label Hikmah dari Kehilangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah dari Kehilangan. Tampilkan semua postingan
Senin, 09 September 2013
Kenyataan hidup yang penuh dengan problematika
Pagi yang cerah dengan semangat yang penuh cahaya di pagi ini> tindakan yang tak luput dari ucapan mungkin di biasakan dengan melihat,berimajinasi yang tanpa batas manusia normal,manusia normal punya banyak kekuatan yang dia milki ,yang dia tunjukan dengan ucapan-ucapan yang mungkin dia lontarkan utuk membanggakan dirinya sendiri ,yang lebih baik dari dirinya,yang lebih tinggi dari kekuasaan dan jabatannya<<<<<<<< manusia lain banyak keinginan yang dia milki sekarang tapi semua hanya bisa melihat dan keinginan yang tak mungkin ada keajaiban> keajaiban yang tak kunjung datang tapi harus punya keyakinan dan semangat toh sekarang gak manusia yang luar biasa punya segalanya? semangat ...................
Jumat, 30 Agustus 2013
KEGELISAHAN IBU BHAYANGKARI
Saya anak ke dua dari enam bersaudara, menikah sejak 1993 dengan seorang
anggota POLRI, sebut saja S. Kami dikaruniai seorang putri, tapi sudah
meninggal dunia. Sebagai anggota Bhayangkari, saya dinobatkan menjadi
Bhayangkari termuda dan rajin mengikuti segala kegiatan, demi menunjang
karier suami. Hingga suatu hari, seorang teman Bhayangkari mengatakan pada
saya, "Buat apa capek-capek arisan dan kegiatan yang menguras tenaga. Toh,
Ibu enggak masuk tanggungan daftar gaji!"
Aduh Bu, layaknya disambar petir saya mendengarnya. Ketika saya tanyakan
kebenaran itu pada S, ternyata benar. S bilang, ada administrasi yang belum
saya lengkapi. Memang, saat akan menikah dulu, ada banyak sekali berkas yang
harus saya dan orang tua tandatangani. Malangnya, tanpa membaca dengan teliti,
karena saya percaya S akan menjadi suami yang baik, saya dan orang tua
langsung menandatangani surat-surat itu.
Ternyata Bu, itu surat tanda bukti perselingkuhan saya. Tentu saja saya dan orang tua merasa tertipu, padahal saya dan S tinggal serumah, layaknya suami istri. Lalu, saat S akan mengikuti pendidikan di Sukabumi, komandannya dan S bersepakat 'memulangkan' saya ke rumah orang tua dengan iming-iming yang langsung saya percayai. Saya tak pernah menyangka komandan S yang selama ini saya anggap seperti orang tua, tega berbuat begini. Akhirnya, setelah lulus dan naik pangkat, S pulang dan kembali ke kesatuannya di tahun 1999, lalu dimutasi atau dipindah.
Saya sendiri mencari kerja di Lhokseumawe. Lalu, saya berkenalan dengan perwira, Kapten TNI/ AD, sebut saja Y. Dia lalu mengajak saya berumah tangga. Melihat Y serius, saya ajak dia ke kampung tempat kelahiran saya. Di kampung, teman-teman meneror keluarga saya. Mereka bilang saya tak tahu sopan santun, karena membawa lelaki lain. Y pun dikatakan berjalan dengan istri orang. Bu, saya malu, karena akhirnya Y pun marah. Dia minta saya mengurus dulu status dan kejelasan rumahtangga saya dengan S, baru dia mau bicara lebih serius tentang hubungan kami. Tapi, justru sekarang sedang terjadi "perang dingin" antara saya dengan Y.
Sementara, setiap saya menjumpai S, dia hanya bilang, "Silahkan kawin, saya tak akan menuntut." Setiap saya temui Kepala Bagian Administrasi S, saya dikata-katai hanya butuh uang saja, sehingga mau mengurus semua ini. Rasanya sedih sekali, selama berpisah dengan S saya dianggap "kurang makan". Sekarang, justru S akan menuntut saya ke pengadilan. Menurut S, dia menerima kabar saya sudah menikah dengan Y.
Yang ingin saya tanyakan, apakah saya bisa menuntut S, karena saya tak masuk daftar gaji selama menjadi istrinya, padahal ada surat ijin kawin yang ditandatangani Kapolres? Apa gunanya surat ijin kawin itu dong, Bu? Apakah saya bisa menuntut S, karena dia memiliki senjata api yang dipakainya untuk mengancam saya, jika melawan kehendak S? Apakah saya bisa memakai pengacara, karena saya buta masalah hukum, Bu? Terima kasih.
Ri – Banda Aceh
Ternyata Bu, itu surat tanda bukti perselingkuhan saya. Tentu saja saya dan orang tua merasa tertipu, padahal saya dan S tinggal serumah, layaknya suami istri. Lalu, saat S akan mengikuti pendidikan di Sukabumi, komandannya dan S bersepakat 'memulangkan' saya ke rumah orang tua dengan iming-iming yang langsung saya percayai. Saya tak pernah menyangka komandan S yang selama ini saya anggap seperti orang tua, tega berbuat begini. Akhirnya, setelah lulus dan naik pangkat, S pulang dan kembali ke kesatuannya di tahun 1999, lalu dimutasi atau dipindah.
Saya sendiri mencari kerja di Lhokseumawe. Lalu, saya berkenalan dengan perwira, Kapten TNI/ AD, sebut saja Y. Dia lalu mengajak saya berumah tangga. Melihat Y serius, saya ajak dia ke kampung tempat kelahiran saya. Di kampung, teman-teman meneror keluarga saya. Mereka bilang saya tak tahu sopan santun, karena membawa lelaki lain. Y pun dikatakan berjalan dengan istri orang. Bu, saya malu, karena akhirnya Y pun marah. Dia minta saya mengurus dulu status dan kejelasan rumahtangga saya dengan S, baru dia mau bicara lebih serius tentang hubungan kami. Tapi, justru sekarang sedang terjadi "perang dingin" antara saya dengan Y.
Sementara, setiap saya menjumpai S, dia hanya bilang, "Silahkan kawin, saya tak akan menuntut." Setiap saya temui Kepala Bagian Administrasi S, saya dikata-katai hanya butuh uang saja, sehingga mau mengurus semua ini. Rasanya sedih sekali, selama berpisah dengan S saya dianggap "kurang makan". Sekarang, justru S akan menuntut saya ke pengadilan. Menurut S, dia menerima kabar saya sudah menikah dengan Y.
Yang ingin saya tanyakan, apakah saya bisa menuntut S, karena saya tak masuk daftar gaji selama menjadi istrinya, padahal ada surat ijin kawin yang ditandatangani Kapolres? Apa gunanya surat ijin kawin itu dong, Bu? Apakah saya bisa menuntut S, karena dia memiliki senjata api yang dipakainya untuk mengancam saya, jika melawan kehendak S? Apakah saya bisa memakai pengacara, karena saya buta masalah hukum, Bu? Terima kasih.
Ri – Banda Aceh
Rabu, 28 Agustus 2013
Berikut ini adalah langkah - langkah mudah untuk membuat ketupat
1. Siapkan 2 helai daun kelapa.
2. Buanglah batang daun kelapa (bisa anda kumpulkan untuk dijadikan sapu lidi :D ).
3. Kemudian anda mendapatkan 2 helai daun kelapa yang sudah tidak memiliki batang.
4. Kemudian lilitkan satu helai daun kelapa pada telapak kanan tangan hingga 4 lilitan.
5. Kali ini lilitkan sehelai daun kelapa lagi pada telapak tangan kiri sebanyak 4 lilitan juga.
6. Lalu coba pastikan arah lilitan daun pada tangan kiri dan tangan kanan anda memiliki arah yang berlawanan.
7. Sekarang pegang erat 2 lilitan pada tangan kanan dan kiri anda
berdekatan, dan masukan ujung helai daun yang berlawanan seperti
menganyam tikar.
8. Lanjutkan anyaman.
9. Teruskan anyaman seperti pada gambar.
10. Lanjutkan anyaman hingga lilitan yang ke 4.
11. Apabila setiap lilitan telah selesai di anyam semua, anda akan
memiliki ujung helai daun yang kecil mempunyai arah berlawanan dengan
ujung helai daun yang besar.
12. Lalu lanjutkan sperti menganyam tikar dengan tarik ujung helai daun yang kecil, dan ambil ujung helai daun yang besar.
13. Kemudian teruskan anayaman pada ujung helai daun yang besar.
14. Kini anda menemukan kembali ujung helai daun yang kecil memiliki arah berlawanan dengan ujung helai daun yang besar.
15. Setelah itu Anyam ujung helai daun yang kecil ke arah berlawanan dengan ujung helai daun yang besar.
16. Apabila anda mengikuti setiap langkah diatas dengan benar, maka
anda akan memiliki anyaman seperti di gambar, rapihkanlah anyaman dengan
menarik bagian helai daun yang masih kendur.
17. Ketupat anda sudah jadi.
Sabtu, 17 Agustus 2013
Hikmah dari Kehilangan
Pada suatu masa,di sebuah pedesaan China,hidup seorang pria tua dan keluarganya.Pria tersebut mengolah sebuah kebun dan memiliki beberapa hewan peliharaan,salah satu peliharaannya adalah seekor kuda jantan. Suatu ketika,kuda yang dimiliki pria tua tersebut hilang. Beberapa tetangga mengatakan sempat melihat kuda tersebut berlari melewati batas yang tidak boleh dilewati oleh warga desa. Pria tua itu menjadi sedih, tetapi dia mengatakan,'' Tidak apa, barangakali kejadian ini bukan sesuatu yang buruk dan siapa tahu akan datang seuatu yang baik''.
Setelah hari berganti hari,pda malam hari, pria tua itu dekejutkan dengan suara kuda. Dia langsung bangkit dan melihat ke arah luar rumah, tampak kudanya yang hilang telah kembali dan membawa seekor kuda betina entah milik siapa yang menjadi pasangannya. Tentu saja, seperti peraturan didesa itu, kuda yang tidak diketahui pemiliknya atau liar akan menjadi milik mereka yang menemukan. Para tetangga memberi selamat pada pria tua yang telah mendapatkan kembali kudanya serta tambahan satu kuda secara cuma-cuma.
Setelah waktu berjalan, anak laki-laki dari pria tua tersebut mulai berlatih untuk naik keatas punggung kuda dan mamacu kuda tersebut disekitar area perkebunan. Sayangnya, pada suatu hari,anak laki-laki itu jatuh dari atas punggung kuda dan mengalami cedera kaki yang sangat parah. Perlu waktu lama untuk sembuh, tetapi sekalipun telah sembuh, anak laki-laki itu tidak berjalan normal. ''Tidak apa-apa, nak'' ujar si pria tua,'' Mungkin hal ini akan mendatangkan sesuatu yang lebih baik untukmu,''.
Dan seperti kejadian sebelumnya, si pria tua merasakan kembali sesuatu yang baik tersebut. Pada masa itu adalah masa perang, semua anak laki-laki didesa wajib memanggul senjata dan bertempur dimedan perang. Tetapi karena cacat, anak laki-laki sang pria tua tetap didesa dan bekerja mengolah kebun. Tidak ada yang disesali,karena anak laki-laki itu juga bersikap sama seperti ayahnya , dia percaya akan ada hikmah dibalik kejadian buruk yang menyebabkan dia kehilangan cara berjalan yang normal. Tahun berganti tahun, Perang telah berakhir dan para anak laki-laki yang bertempur kembali kedesa . Ternyata hanya beberapa yang kembali, karena kebanyakan dari mereka ternyata tewas dimedan perang. Sang pria tua sedikit bersyukur karena anak laki-lakinya tetap dalam kondisi sehat dan semakin pintar mengurus perkebunan. Sehingga, tidak ada yang perlu disesali karena bagi keluarga tersebut,''Kebahagiaan tidak hanya dinilai pada saat sesuatu terjadi, tetapi juga pada masa-masa setelahnya''.
Sahabat, hikmah dari cerita tersebut, kita harus belajar bahwa setiap kali kita merasa kehilangan, sesungguhnya apa yang kita tangisi tidak benar-benar hilang, karena pada saat yang tidak akan kita sangka, kita akan mendapatkan hikmah dari rasa kehilangan tersebut. Kita akan merasakan kebahagiaan lebih berlipat jika kita pernah merasakan kehilangan. Tetapi rasa bahagia itu akan datang saat kita bisa melepaskan dengan rela apa yang telah hilang, tidak dengan meratapi atau menangisi terus menerus.
Langganan:
Postingan (Atom)
